Jumat, 26 April 2013

Memusuhi kok ngajak-ngajak - part 2


Flashback ke masa SMA, gue dibesarkan di lingkungan yang keras. Medannya begitu terjal dan dipenuhi jalan berlubang. Senioritas merajalela. Apalagi waktu kelas 10, setiap hari setelah pulang sekolah, gue selalu dicegat di luar gerbang sekolah. Dipinggirkan dan dibawa ke gang-gang kecil, tempat para kakak-kakak kelas nongkrong. Di moment-moment itulah gue dipertemukan dengan yang namanya, tawuran.

Dari sana gue belajar bahwa orang-orang songong, belagu, banyak gaya, dan banyak bacot, hidupnya nggak akan lama. Ini terbukti saat beberapa teman sekelas gue dan beberapa yang berbeda kelas menjadi bulan-bulanan para senior. Terus gue kasian sama mereka?

Nggak.

Ya, mereka adalah contoh orang yang banyak gaya, belagu, dan sombong. Sifat-sifat seperti ini nampaknya nggak diberi kesempatan menghirup udara segar di sekolah gue. Dan hebatnya, kekompakan antar para senior dalam memusnahkan orang-orang belagu ini, membuat setiap aksi pengeroyokan nggak pernah ketahuan pihak sekolah.

Termasuk ketika gue digebukin sama para senior. Nggak ada yang tahu. Mau ngelapor, besoknya gue digebukin lagi. Ya, gue adalah salah satu dari orang yang memiliki sifat-sifat di atas. Terus gue mengasihani diri sendiri?

Nggak.

Awalnya, gue menganggap bahwa rentetan kejadian ini adalah tindakan premanisme dan pembully-an. Di tengah cenat-cenut memar dan rasa kedut-kedutan jahitan di pelipis, gue anggap ini adalah cara Tuhan untuk mengubah sifat gue. Api dibalas dengan api. Setahun pertama di sekolah itu membuat banyak perubahan dalam diri gue.

Pada tahun kedua, tepatnya kelas 11, gue baru merasakan maksud dari rentetan luka selama di kelas 10. Gue jadi punya banyak teman, terutama dengan para senior. Gue jadi lebih ramah, nada bicara udah nggak naik seperti dulu, dan satu hal yang paling gue syukuri adalah tempramen gue pun menurun. Dulu, ketika dibecandain dan gue nggak suka, pasti langsung ribut. Sekarang ketika dibecandain, suka nggak suka, gue malah ketawa. Entah kenapa, di saat yang bersamaan, gue menjadi lebih disukai oleh banyak orang. Lebih diterima.

Tiga tahun dibesarkan oleh kekerasan yang mengubah, membuat gue membenci sifat-sifat gue yang dulu. Iya, sifat yang dimiliki orang songong, belagu, banyak gaya, dan sombong. Sekarang, ketika ketemu sama orang macem di atas, gue lebih milih menghindar. Gue nggak mau terlibat lebih jauh dengan orang seperti itu. Sederhana, gue nggak mau kembali menjadi orang yang emosian. Karena ngeliat orang model begitu, gue bawaannya pengin ribut.

====

Kembali ke zaman kuliah, menjelang akhir semester tiga, di bangku perkuliahan, gue ketemu lagi sama orang model begini. Orangnya banyak gaya, gaya bicaranya songong, dan hal yang paling memperkeruh suasana adalah.. dia ngondek. Semua persyaratan untuk menjadi target bully, dilengkapi sama dia.

Sebut saja dia, Amir.

Di awal pertemuan, gue berusaha untuk berpikir positif karena gue sadar, gue udah jahat banget nge-judge dia dengan bawa-bawa masa lalu gue ke dalamnya. Saat itu gue juga sadar kalau gue udah subjektif banget.

Semua terasa baik-baik aja sampai gue terlibat pembicaraan dengannya malam itu.

“Don, ikut dugem lah.”

“Aduh, gue mau belajar nih, besok ada test lisan. Lain kali deh, Mir.”

“Halahh, lo mau belajar kayak apa juga, tetep aja IP lo segitu-gitu aja.”

*DHEG!*

“Iya tau dehh yang IP-nya tiga koma.”

“Yaelah, santai aja sih, mending dugem dulu. Rempong luh.”

“Lo ajak yang lain ajalah.”

“Ah cupu lo. Belajar gaul lah sama gue.”

*DHEG!!*

Gue besar di ibukota, gue dibesarin dari SMA tawuran, memar dan luka jahitan sering bersarang di muka. Dan dia bilang gue cupu.

“Mir, bokaplu tu guru SD, minggu lalu kan dia dateng ke sini, lo disuru belajar yang rajin, jangan ngambur-ngamburin duit aja kerjaannya. Lo nggak kasian sama bokaplo?”

Semenjak percakapan kami malam itu, pertemanan kami retak.

Ingnoring each other is the perfect way.

Cuma kalimat itu yang bisa gue ucapin sambil menahan kepalan tangan supaya nggak naik dan memukul. Sampai sekarang gue masih nggak ngerti sama orang yang kebelet gaul dengan menghalalkan segala cara. Selain banyak gaya, high profile, dia ini ngondek. Gue yakin, nggak ada cowok yang nggak emosi ketika dinyolotin sama cowok ngondek. Kalau udah ngondek, mbok yang rendah hati gitu lho.

=====

Beberapa bulan kemudian, gue nggak sengaja dipertemukan dengan seorang cewek di XXI. Adegan dalam cerita ini ini benar-benar sungguh FTV. Ya, waktu itu kami melakukan hal yang sama. Kami sama-sama memegang tiket “The Avengers” dan sama-sama menunggu seseorang di depan pintu masuk studio 2.

Pemutaran film jam 19.45, kami sudah berdiri tepat di depan studio 2 sejak jam 19.20. Kami cuma sibuk dengan telfon masing-masing. Beberapa kali kami terlihat sibuk menghubungi pasangan masing-masing.

Jam 19.35, raut kegelisahan sudah tak mampu lagi kami sembunyikan. Gue terlihat jalan kesana-kemari di depan studio sambil menempelkan telfon di dekat telinga. Cewek itu juga mulai menyibak rambut belah tengahnya, diiringi muka bete gegara batal makan sushi.

Announcement kalau pintu studio 2 telah dibuka, berkumandang. Satu persatu para couple dan anak nonton memasuki studio 2 lalu menyerahkan tiketnya di untuk disobek gitu aja sama mbak-mbak embem. Tapi nggak untuk kami. Kami masih di luar. Sama-sama memandangi layar telfon. Sama-sama berwajah kesel.

Tiba-tiba mbak-mbak embem di depan pintu masuk memanggil gue.

“Mas, itu tiket The Avengers di studio  2 kan?”

“Iya, mbak.”

“Lho, udah mulai filmnya. Itu pacarnya nggak diajak masuk?”

Gue nengok ke cewek itu.

Cewek itu nengok ke gue.

“Bu-bukan mbak, dia bukan pacar saya. Cowok saya nggak seganteng ini.” bales cewek itu.

“Bu-bukan mbak, dia bukan gebetan saya. Gebetan saya nggak se-aduhai ini.” bales gue.

Oh, bukan. Bukan begitu percakapannya, bukan.

Akhirnya kami jadi penonton yang terakhir kali masuk ke studio itu. Dengan muka gondok, gue nonton sendirian. Udah capek-capek gue beliin tiket, eh sang gebetan malah nggak bisa dihubungi menjelang film dimulai. Ya begitulah,  dunia pedekate memang kejam.

Dan.. ternyata seat kami bersebelahan. Ada dua seat kosong di antara kami. Siapa lagi kalau bukan diisi oleh partner nonton kami. Dia sama cowoknya dan gue sama gebetan. Tapi mereka nggak ada. Studio sore itu penuh, namun menyisakan 2 seat kosong yang memisahkan duduk kami.

Saat itu gue ngerti kalau nonton sendirian garing abis, nyet.

Di sela-sela nonton, gue sempetin ngeliat wajah cewek itu. Mukanya bete mampus. Palingan diceng-cengin dikit lagi juga nangis. Makanya gue suka heran aja kalau ada cowok tega mukulin ceweknya sampe nangis, padahal.. cewek diduain atau nggak dikasi kabar dikit aja udah nangis.

Filmnya udah mulai dari tadi, tapi dia masih aja sibuk dengan telfon genggamnya. Sayang sekali, dia punya jemari yang lembut untuk menggenggam sebuah telapak tangan, tapi jemarinya habis digunakan untuk menggenggam henfonnya. Dia bete tingkat dua minggu nggak dibayarin makan sushi.

Terus apa bedanya sama gue, udah nelfon dari pagi dan dijawab iya sama gebetan, udah gue beliin tiket nonton, dan itu hari sabtu (kamu tau sendiri kan kalau harga tiket hari sabtu itu nggak bersahabat), tapi nggak dateng. Mending ngasi kabar, lha ini nggak sama sekali. Ditelfon juga nggak dibales, di-SMS pun nggak diangkat.

Anjis curhat banget, Setan.

Di tengah kegelapan ruangan itu, gue cobak menegurnya.

“Kamu kenapa, pacarmu nggak dateng, ya?”

Dia nengok, “Iya nih, kamu juga?”

“Oh, hehe dia belum pacar, masih pedekate aja sih, hehe.” Gue cengegesan dalam kegelapan.

“Kamu nggak jemput dia?” Bales cewek itu.

“Ngg.. aku nggak tau di mana kosannya.”

“Dasar cowok, biasain sih kalau mau ngajak jalan ya musti tau di mana domisili ceweknya dong.”

Gue diem.

Dalem.

“Ngg.. lha kamu nggak dijemput pacarmu? Kok kamu yg malah nungguin dia di XXI?”

“Aku yang beliin tiketnya, dia nanti nyusul. Tapi malah nggak dateng. Eman-eman kan udah beli 2 tiket gini malah nggak ditonton. Ya, udah nonton sendiri deh.” Bales dia dengan suara terseret-seret.

“Cowokmu kok jahat?”

“Iya, nggak tau kenapa nih.”

Yes, terusin Don terusin.. bikin dia curhat, Don!!

“Kamu mau tau nggak dia ke mana sekarang?”

“Ke mana? SMS ku nggak diangkat, telfonku nggak dibales.”

“Dia lagi main futsal, terus pacar barunya nontonin dia main, ngasi semangat dari luar lapangan.” Bales gue.

“AH NGGAK MUNGKIN!! NGGAK MUNGKIN!!”

“SSSTTTTTT.. WOY JANGAN BERISIK, KAMPRETTT!!!!” Suara dari penonton di belakang gue.

“Nggak mungkin tauk! Kamu nggak usah ngada-ngada gitu deh.” Bales cewek itu sambil pelanin suaranya.

“Yaudah gini, cowokmu hobinya apa cobak?”

“Ma-main futsal.”

“Tuh kan bener.”

“TIDAKKKKKKK..” Cewek itu kembali histeris.

“Terus aku harus gimana cobak??” tanya cewek itu.

“SSST, jangan keras-keras, nanti dimarahin orang belakang lagi.” Gue pindah ke seat sebelah. Sekarang, jarak gue dengannya cuma tinggal 1 seat.

(Pelanin suaranya lagi) “Ya terus aku harus gimana cobak?” tanya cewek itu lagi.

“Kamu samperin tempat dia biasa main futsalnya.”

“A-aku nggak tauuuu. Gimana dongg??”

“Tuh kan bener. Ya gimana kamu bisa tau, dia kan emang sengaja nggak bilang kalau mau main futsal. Soalnya dia bawa cewek lain.”

“KYAAAA TIDAKKKKKK..” Cewek itu menjerit sambil ngerapihin poninya.

“SSSTTT!! Jangan keras-keras, nanti dimarahin lagi sama orang sebelah dan belakang.” Bales gue.

“Ya, aku harus gimanaaaaahhh??” Dia pindah ke seat sebelahnya yang kosong. Dan sekarang, gue sebelah-sebelahan sama dia.

Yes. Strategi gue berhasil.

“Jadi gini, api dibalas api. Selingkuh dibalas selingkuh.” Bales gue pelan.
Dia menatap gue, tercengang.


=====


Setelah kejadian absurd itu, gue dengannya mulain menjalin kedekatan. Ternyata penggalauan massal gue di studio 2 itu bener. Tapi cowoknya nggak selingkuh di lapangan futsal. Cowoknya adalah seorang gamer. Cowoknya selingkuh sama cewek lain yang juga seorang gamer. Anjis, drama banget. Itu cowok biasa bohongin si cewek dengan alasan main futsal. Otomatis si cewek itu nyangka hobi cowoknya adalah main futsal. Hubungan si cewek itu pun kian menjauh. Gue sebagai striker oportunis, tentunya nggak menyia-nyiakan peluang emas ini.

Sebut saja si cewek itu, Marissa.

Selang beberapa minggu kemudian, gue ngajak Marissa nonton Dark Shadow – sebuah film drakula absurd yang diperakan oleh Johny Depp. Berawal dari studio lagi, gue mulai kenal lebih akrab dengan Marissa. Dia agak beda dari cewek-cewek yang gue kenal. Dia unyu. Juga garing. Kalau dia udah kumat, gue sering menyembah kegaringan Marissa. Di sela-sela film berlangsung, mata kami bertemu, terang-terangan menyangkal, namun diam-diam saling ingin memiliki.

Sampai akhirnya kejadian yang nggak diharapkan terjadi.

Marissa adalah termasuk cewek yang nge-gank. Dan seperti yang kita udah tau, di setiap gank cewek-cewek cakep, pasti bakal ada satu atau dua cowok kecewek-cewekan alias ngondek di dalamnya. Entah harus dengan hukum apa  menjelaskannya, pokoknya begitu. Kata orang-orang, cowok kecewek-cewekan alias ngondek ini adalah aset buat ngedeketin salah satu personil gank cewek cakep itu. Kalau bisa deket sama cowok ngondek ini, jalan gue masuk ke gank itu bakal mulus. Gue bakal dapat cewek cakep itu. Impian dapat tercapai. Status jomblo pun sirna.

Tapi sialnya nggak terjadi buat gue.

Cowok ngondek itu adalah Amir.

Dunia selebar daun kelor itu benar adanya.

Lebih sialnya lagi, gue dijelek-jelekin di depan Marissa. Siapa lagi kalau bukan ulah si Amir.

Hari itu gue belajar, dalam sebuah sistem pertemanan cewek kebanyakan, temen-temen dalam gank atau komunitas bersuara lebih nyaring ketimbang suara dari hati sendiri. Seperti pemukiman penduduk yang padat, api kebencian menyebar begitu cepat. Begitulah hidup, cinta berubah menjadi benci hanya dalam hitungan detik.

Marissa lebih mendengar masukan dari teman-teman gank-nya ketimbang kata hatinya sendiri. Konflik personal yang terjadi antara gue dengan Amir terdahulu menjadi bumerang bagi kisah gue hari itu.

Belum. Belum kelar sampai di situ. Temen-temen Marissa di gank-nya, juga ikut memusuhi gue. Padahal, kenal gue juga nggak. Mereka kenal gue cuma lewat Amir. Bermasalah dengan satu orang, malah membuat dijauhi banyak orang.

Dan yang paling menyedihkan, hari itu Marissa berubah total. Mungkin benar, melihatmu berubah adalah cara sederhana menyambut kehilangan.

Inilah yang disebut memusuhi kok ngajak-ngajak..



====

Setelah beberapa kasus di memusuhi kok ngajak-ngajak, gue nggak menyalahkan siapapun, termasuk diri sendiri. Kadang, ada beberapa masalah yang memang datang nggak untuk diselesaikan, tapi hanya datang gitu aja, kemudian menguap lagi. Ampasnya itu disebut pelajaran. Kalau aja gue nggak bermasalah sama Amir, mungkin ceritanya nggak jadi gini.

Amir nggak seratus persen salah. Saat itu gue juga berkaca pada diri sendiri. Harusnya, gue nggak ngebawa-bawa masa lalu gue ke hari itu, ke hari di mana gue ngebanding-bandingin Amir dengan sifat-sifat yang gue benci.

Tapi itulah sebuah ujian. Kita kerjain hari ini, hasilnya baru bisa kita liat di waktu yang akan datang. Dan sering berakhir dengan nilai jelek. Di saat itu juga kita nyesel, kenapa nggak belajar lebih rajin.

Tapi tenang, masih ada remedial..


Jatuh cintalah sekali lagi!


from Don Juan




Rabu, 24 April 2013

Beberapa Peribahasa yang Harusnya Direvisi


Kayaknya nggak ada deh yang nggak suka sama quotation atau kalimat mutiara atau peribahasa. Bahkan, kalimat-kalimat yang bagus ini udah jadi sasaran empuk kena retweet di Twitter. Coba dipikir-pikir sekali lagi, akun Twitter mana yang nggak pernah ngetwit kalimat-kalimat mutiara dari seorang tokoh atau publik figur? Minimal dalam sehari, pasti ada satu atau lebih twit berisi quotation / peribahasa. Atau nggak, minimal di ngeritwit akun yang khusus ngetwit peribahasa atau quote. Makanya nggak heran, akun yang khusus ngetwit kalimat-kalimat bagus ini followernya pasti nggak sedikit.

Tapi buat gue, nggak semua peribahasa atau quote ini dapat terus digunakan. Ada beberapa peribahasa atau quote yang harus direvisi seiring berjalannya timeline Twitter. Berikut adalah beberapa contohnya.


“Don’t Judge a Book by It’s Cover”

Semua orang yang pernah muda dan semua orang yang telah menjadi orang tua, pasti udah ngerti banget peribahasa di atas. Sampai sekarang pun, gue masih nggak tau siapa pencetus peribahasa di atas yang artinya “Jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya saja”. Nah, di sela-sela kesibukan gue sebagai seorang playboy, iya, playboy yang sering dikucilkan dari lingkungan sekitar gara-gara ketidakhobiannya memainkan wanita, gue sering mikir dan mencari di mana letak keabsahan peribahasa ini.

Di jaman “yang nyakitin yang dipertahanin” atau di jaman semua bisa dilakukan secara online, bahkan pacaran pun bisa online (LDR), peribahasa ini benar-benar menjadi ganjalan besar. Setelah mengalami jatuh bangun di tiga generasi jejaring sosial seperti Friendster, Facebook, dan Twitter, dan sempet baca-baca buku psikologi juga, gue melihat bahwa human was born to judge.

STORY 1

Setelah pisah sama teman SMA karena kami udah memilih kampusnya masing-masing, pasti nanti ada yang namanya reuni, atau temu kangen, atau ngumpul-ngumpul lucu. Nah, selama rentang waktu yang lama itu, aktivitas komunikasi antar teman SMA kebanyakan berlangsung di BBM atau jejaring sosial.

Lama nggak ketemu, tentu banyak perubahan yang berubah dari diri masing-masing. Sebut saja Mariska. Dia adalah temen cewek gue waktu SMA yang sampai sekarang cuma menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan. Walau sudah berpisah dia di mana gue di mana, kami tetep komunikasi via jejaring sosial. Facebook, Twitter, dan BBM. Di status FB, Mariska ini kerjaannya ngeluh. Di Twitter, Mariska kerjaannya ngomel-ngomel dan nyeritain masalah. Di Status BBM, dia nyinyir atau nyumpain orang. Hebatnya, ini dia lakukan setiap hari. Gue pun mikir kalau setiap hari hidupnya ini isinya cuma masalah. Nah, sifat manusiawi gue muncul. Gue nge-judge Mariska. Gue nge-judge Mariska adalah cewek ababil. Dia berubah, nggak kayak waktu SMA dulu. Gue nge-judge Mariska dari status jejaring sosialnya.

Awal tahun kemarin, gue reunian sama temen SMA. Dan tentu aja banyak yang pangling dengan perubahan yang terjadi pada diri gue. Beberapa teman gue ada yang teriak, “Dude!! Dude Herlino!! Aaaakkkkk...” lalu orang yang ada di sebelahnya langsung ngerukiah temen-temen gue itu. Ada juga yang teriak “Tsaelah apa kabar lo, gan?” Gue disangka Afgan. Eh, taunya dia anak kaskus. Semua orang dipanggil “Gan” sama dia.

Lupakan. Bukan itu inti ceritanya.

Begitu ngumpul, Mariska langsung ngajak ngobrol gue. Ya, sebagai cowok yang punya kemampuan basa-basi yang mumpuni, tentu aja gue nanya kabar dia. Dan.. ini kesalahan besar gue. Begitu nanya kabar, dia langsung nyeritain banyak masalah hidupnya. Dia pun ngeluh sama masalah kampusnya lah, pacarnya lah, mantannya lah, duileee emak-emak berkonde rempong, cyin.

Gue mundur perlahan.

Gue nge-judge kalau Mariska ini ababil, dan benar. Don’t judge book by it’s cover, totally wrong.


STORY 2

Ini terjadi di semester dua, ketika gue sedang gencar-gencarnya berniat punya pacar dari Facebook. Temen gue, Reza, juga melakukan hal yang sama. Dia mengikuti jejak gue. Tapi dia main YM. Dia chatting-chattingan. Reza menggunakan kalimat yang bagus. Reza pandai menguntai kata. Menjalin cinta di jejaring sosial, di mana kata-kata adalah hal yang vital, Reza ini dikategorikan serigala berbahaya. Tapi sayangnya, di dunia nyata, Reza ini ibarat serigala berbulu ketek. Kata-kata manisnya di Facebook nggak sesuai sama muka dan tingkahnya. Tapi saat itu semua terasa lancar, sampai pada hari di mana Reza ngajak cewek itu ketemuan membuat semuanya kacau. Balau.

Reza gugup ketika cewek itu mau diajak ketemuan padahal cewek apes itu belum tau begimana wajah Reza. Dan Reza juga nggak tau begimana wajah cewek itu. Yang cewek itu tau, Reza ini manis. Seperti kata-katanya. Alhasil Reza ngebayarin gue makan sebagai upah sogok. Gue dibayarin makan dua hari berturut-turut supaya gue mau nemuin cewek itu. Kalau ceweknya jelek, gue harus ngegantiin dia blind date jahanam itu. Kalau ceweknya bening, gue harus edifikasi Reza di depan cewek itu, lalu mempersilahkan Reza masuk dan gue harus segera angkat kaki dari tempat itu. Karena tawaran menggiurkan itu, gue mau. Gue survive untuk dua hari ke depan.

Dugaan gue benar. Cewek itu bening. BBM dari Reza pun masuk, dia yang ngeliat dari kejauhan, langsung menginstruksi.

“Kampret, cakep bener, Don! Jatah gue tu, lu puji-puji gue, kenalin gue dulu di situ, abis itu cepet angkat kaki lu. Oke!”

Tapi skenario nggak berjalan sesuai kehendak Reza.

Si embem bening itu malah akrab sama gue. Karena kesel kelamaan nunggu nyaris satu jam, Reza nyamperin meja kafe tempat gue sama si embem bening ngobrol.

“Oit, what’s up bro?” Reza nepuk bahu gue, nongol gitu aja di meja kami.

“Reza, dia siapa?” tanya si embem bening.

“Lah, Reza siapa? Gue ini Reza. Gue yang sering chatting sama lo di YM. Hehe.” Reza narik bangku dan duduk di meja gue dan si embem bening.

Gue garuk-garuk kepala.

“Reza, ini siapa sih? Teman kamu?” Si embem bening nanya lagi.

“Lho, yang Reza itu gue? Kok malah jadi dia?” Sergah Reza.

“Jadi, kalian ini dua-duanya Reza? Ini yang benar yang mana sih?” Si embem bening makin bingung.

Gue garuk-garuk kepala makin keras.

“Don, jelasin ke dia dong! Lo ngapa garuk-garuk kepala doang, shampoan kagak sih lo?” Reza nepuk bahu gue lagi.

“Nita, jadi gini, yang namanya Reza itu dia, bukan aku. Nama aku, Don Juan.”

Nita si cewek embem bening, ngeliatin Reza dari kepala sampe kaki, balik lagi ke kepala, lalu turun lagi ke kaki. Reza datang cuma pake sandal, celana pendek, sama kaos.

Lalu, Nita ngeliatin gue dari kepala sampe kaki, balik lagi ke kepala, turun lagi ke kaki. Gue pakai converse, jeans, dan kemeja biru dongker, gue tak lupa menyisir rambut, performa mantap, akselerasi pun prima.
Awkward moment pun terjadi.

“Hah, serius kamu yang namanya Reza?” Tanya si Nita.

“Lha iya, serius. Dia ini temen gue, Doni Tata.” Reza nepuk bahu gue lagi.

WHAT?! Kok nggak kayak di chatting ya?!” Nita memundurkan duduknya perlahan.

Gue cuma nyengir.

“Pikirku, Reza itu manis banget di chatting, jago bikin puisi, pasti cowok ini kalem. Manis. Sopan. Kok malah jadi gini?” Nita mundurin duduknya nggak santai.

Reza nutup kupingnya.

Reza lari ke luar kafe. Jongkok di parkiran. Merenungi masa depan.

Nita nge-judge Reza dari kata-kata lalu diinterpretasikan ke dalam penampilan. Gue disangka seorang Reza oleh Nita. Malam itu gue belajar, bahwa setiap dari kita pasti akan nge-judge seseorang dari penampilan. Percaya nggak percaya, apalagi soal cinta dan kencan, penampilan adalah hal yang paling pertama di-judge. Baru attitude mengikuti. Selain penampilan, muka juga bakal di-judge. Untungnya, muka gue saat itu lagi ganteng. Jadi gue nggak pulang malam itu. Gue pun nggak perlu nyanyi save me Song. (dikata X-Factor kali.)

Pertanyaan terbesar gue saat itu adalah, apakah nge-judge itu salah? Apakah nge-judge sesuatu hal yang jelek itu salah? Pernah jatuh cinta, kan? Kamu sadar nggak, gara-gara jatuh cinta, kita bisa nge-judge semua hal adalah benar. Nggak ada hal yang salah di mata orang yang dimabuk asmara. Right? Nge-judge itu seperti seorang ilmuwan yang sedang membuat hipotesis pada suatu masalah. Bisa benar dan bisa salah. 

Jika hipotesis salah, maka kita akan menemukan suatu hal baru dan berbeda. Contohnya seperti ini.

Waktu, aku papasan sama kamu, aku nge-judge kalau kamu ini cocok jadi pacarku. Hipotesis awalku, kamu ini cocok jadi pacarku.

Namun aku salah, maka aku menemukan hal baru.

Aku pun memacarimu, dan ternyata kamu ini nggak cocok jadi pacarku. Kamu ini cocoknya jadi pendamping hidup aku.

Don’t judge book by it’s cover? Oh please, we are judging each other..





“Just Be Yourself”

Khusus peribahasa ini, gue adalah seorang yang senang membuktikan kebenarannya. Ya, “Jadilah diri sendiri” jauh lebih baik daripada berusaha menjadi orang lain. Sampai pada akhirnya gue menemukan sesuatu yang lain di cerita-cerita di bawah ini.

STORY 1

Gue adalah seorang yang pemalu. Itulah mengapa gue bersikukuh dan bersikeras ikut mengambil bagian dalam organisasi kampus, walau hasilnya sering bersitegang. Saat itu gue sadar, cuma sedikit – bahkan cuma hitungan jari, jumlah cewek yang berani ngajak ngobrol cowok atau bahkan memulai sesuatu. Gue yang tingkat kegantengannya di bawah rata-rata, tentu dirundung banyak masalah soal kisah asmara.

Ya, niat gue masuk ke organisasi itu sederhana. Gue pengin meningkatkan people skill supaya mudah masuk ke setiap perbincangan orang.

Namun, nggak semudah itu. Gue yang sifatnya pemalu – bahkan cuek, punya kendala besar di tengah kerumunan. Memulai suatu topik pembicaraan, saat itu, menjadi hal yang menakutkan buat gue. Selalu terbersit di pikiran gue, “Kalau gue dikira sok akrab, gimana?”, “Kalau dia nggak suka ngobrol sama gue, gimana?” dan masih banyak lagi. Untuk bisa melebur dan blend in the crowd, gue harus belajar sesuatu yang bukanlah menjadi ciri khas gue.

Just be myself?

Gue ini pemalu. Jika gue terus mempertahankan peribahasa di atas, gue nggak akan jadi apa-apa. Dan kalau gue terus mempertahankan peribahasa di atas, gue nggak pernah nulis postingan “The Handsomology” yang menceritakan tentang mengapa harus memulai duluan, dan attitude.

Dari organisasi yang udah gue geluti semenjak awal semester perkuliahan inilah yang membuat gue menemukan sifat alami sanguine yang terpendam. Ternyata pemalu yang gue punya adalah ketraumaan gue terhadap penolakan. Gue minder karena takut kehadiran gue nggak diterima di lingkungan tersebut.

Just be your self? Kalau pemalu dan ngomong enak sama orang aja nggak bisa, gue lebih milih untuk nggak jadi diri sendiri deh.


STORY 2

Sebenernya gue udah pernah nyeritain maksud dari peribahasa ini di postingan “Beberapa pedekate yang sebaiknya jangan dilanjutin”. Walau isinya cuma kesedihan, gue sadar ada banyak ilmu yang gue dapat dari sana. Iya, ketika gue berbulan-bulan pedekate sama seorang cewek, bahkan di umur pedekate yang menginjak satu setengah tahun, gue masih belum mampu mendapatkan hatinya. Dia nggak suka sama cowok periang, yang meledak-ledak. Dia sukanya sama cowok cool, tenang, dan pembawaannya dingin.
Pertanyaannya, kenapa masih terus gue kejar?

Di saat gue mulai memutuskan untuk berhenti, justru gue dapat ilmunya. Pedekate yang memakan banyak waktu tersebut, pelan-pelan mengubah dan memunculkan sifat baru lagi dalam diri gue. Iya, sifat tenang dan diam. Usaha gue mendekati dia dengan karakter gue sehari-hari nggak pernah mendapat tempat di hatinya.

Ketika mulai fasih menggunakan sifat sanguine meledak-ledak dan sifat phlegmatis yang cool, diam, dan pembawaannya tenang, justru gue mulai mendapat tempat di hatinya. Secara nggak langsung, di akhir cerita, gue mengubah diri gue menjadi karakter yang dia inginkan. Gue nggak menjadi diri sendiri.

Akhirnya gue mendapatkannya, walau cuma sebentar.

Just be yourself itu belum cukup dan belum lengkap. Menurut gue, peribahasa just be yourself  lebih pada upaya menyangkal atau denying terhadap sesuatu. Kalau kamu punya masalah pada cara berkomunikasi atau cara memahami orang lain, lalu dengan santai kamu menjawab “Yahh just be yourself ajalah”, kamu selangkah menuju masalah besar.

Kalau jati diri sendiri ternyata merugikan diri kita sendiri, kenapa masih just be yourself? Kenapa masih just be myself?


Mungkin segitu dulu peribahasanya. Kalau kamu tau peribahasa yang menurutmu harus direvisi, comment di box ya. Atau nggak, email aja. Hehe. (--,)7










Sabtu, 20 April 2013

Changing Room


"Akan tiba saatnya ketika hanya ada aku, kamu, dan waktu yang tepat".


Di jaman yang nggak harus bertatap muka seperti sekarang, kayaknya semua bakal jadi lebih mudah.

Dulu, untuk dapat membeli sayur, seseorang harus pergi ke pasar dan melakukan transaksi. Atau minimal dia wajib mencegat seseorang yang berteriak “yuurr.. yuurrr.. sayuuur..” di depan pagar rumahnya.  Alhasil, orang yang dicegat oleh ibu-ibu berdaster di depan pagar rumah, mau nggak mau dikenal sebagai lelaki yang membawa gerobak berisi sayur. Namun seiring berjalannya waktu, ia lebih akrab disebut tukang sayur.

Itu kan dulu.

Sekarang, ibunya Sobirin, teman gue, belanja sayur udah nggak pada tempatnya. Ibunya Sobirin juga nggak ketemu sama tukang sayurnya. Dia bahkan membeli sayur cukup menggunakan telunjuknya. Dia belanja sayur online.

Tepuk tangan.

Teman gue, Gladis, ujian masuk perguruan tinggi tanpa harus beradu tatap dengan pengawas ujian. Nggak seperti gue yang SNMPTN mesti dikawal banyak orang, dipasangi kamera CCTV di beberapa sudut ruangan, kepala gue dipasangi helm yang ada kameranya, kemudian diberi snack dan lilin. Belum selesai ujian, gue udah melambaikan tangan ke kamera. Usut punya usut, Gladis ini ujian melalui situs web universitas. Ya, ujian online. Begitu gue tanya, “Gimana soalnya, susah nggak?” “Nggak kok, gue ngerjain bareng guru les gue.” Jawab dia datar.

Sementara itu, Renaldi, adalah mahasiswa yang jarang ngampus. Kerjaannya cuma di rebahan di kasur menatap langit-langit sambil nyanyi-nyanyi lagunya Cakra Khan. Yang bikin sebel, IPK-nya cumlaude. Gue yang rajin ngampus dan IPK gue termasuk standar, standard drop out, cuma bisa menatap dia dengki dan keji. Sebelum gue melaporkan hal ini ke Komnas PMRNTSDNJ - Komisi Nasional Perlindungan Mahasiswa Rajin Ngampus Tapi Selalu Dapat Nilai Jelek, ternyata Renaldi ini diberi mata kuliah secara online, tugas-tugas juga sering diberi secara online, dan dikumpulnya pun juga online. Dia mahasiswa Fakultas Ekonomi kelas internasional. Akhirnya, gue pun mengurungkan niat untuk nelfon Kak Seto.

Kalau semua online dan nggak perlu bertatap muka seperti ini, kayaknya sih bakal mudah ya.

Tapi kalau cinta?

Ya, inilah yang terjadi di keseharian hidup gue. LDR atau yang sering gue sebut  pacaran online. Pacaran yang mengandalkan penginderaan jauh ini membuat gue beradaptasi dengan gaya baru dalam membangun mahligai percintaan. Jika cinta adalah sebuah bangunan, maka yang gue lakukan hari ini adalah membangun fondasinya.

====


Kalau pacaran jarak dekat “cintaku berat di ongkos”, maka pacaran jarak jauh berarti “cintaku berat di ongkos, di pulsa, di kangen, di godaan-godaan, dan di segala-galanya.” Selain pulsa yang jor-joran untuk menelpon, LDR ini juga mengharuskan gue untuk hijrah ke kota kekasih. Sejak itu, gue berusaha untuk nggak ngeluh soal biaya komunikasi atau biaya ketemuan. Sekali mengeluhkan soal ini, gue one step closer kandas di tepi jalan. Sesuai dengan quote seseorang yang menjadi favorit gue,

Cinta bukan pengorbanan.. Jika kau merasa berkorban, saat itu cintamu mulai pudar.

Selain itu, LDR juga mengajarkan gue apa makna berpikir positif. Waktu Gaby seharian nggak ngasih kabar, gue tetap berpikir positif. Mungkin dia lagi jongkok di parkiran Indomaret, memandangi jalan raya dengan tatapan berkaca-kaca setelah dicerca dosen pembimbing skripsinya.

Waktu dia bales SMS lama, gue lagi-lagi berpikir positif. Mungkin pulsanya habis. Terus pas mau beli pulsa, abang tukang pulsanya mendadak pingsan. Lalu dibawa ke rumah sakit. Habis itu dia nungguin abang pulsanya sampe siuman. Begitu siuman, baru deh terjadi transaksi pulsa. Akhirnya setelah delapan jam terkatung-katung tanpa balasan, barulah SMS gue dibales.

Ketika dia gue telfon nggak diangkat atau lama diangkatnya, gue tetap-masih-untuk-kesekian-kalinya berpikir positif. Mungkin hapenya di-silent dan ada di tas. Terus tasnya ketinggalan di kos-kosan yang belum dibayar 4 bulan. Jadi intinya dia nggak bisa ngambil hapenya yang kebetulan ada di tas, yang juga kebetulan ada di kamar kosnya yang masih nunggak 4 bulan. Dia menjadi buronan ibu kos.

Kemampuan berpikir positif yang luar biasa ini membuat gue nggak mudah untuk mendramatisir sesuatu. Walau gue terus memperbaiki fondasi hubungan jarak jauh ini, tetap aja ada retak-retaknya. Sesuai dengan perihbahasanya, tiada LDR yang tidak retak.

====

Semua yang ada kata ‘jatuh’-nya pasti nggak enak. Sudah jatuh tertimpa tangga, nggak enak. Sudah jatuh kegencet Adele, apalagi. Jatuh dari tempat tidur, juga nggak enak. Jatuh bangun aku mengejarmuuu, itu lagu dangdut.

Kalau jatuh cinta?

Iya, cuma hal ini yang menggunakan kata jatuh dan kita malah senyum-senyum sendiri dibuatnya. Jika jatuh adalah sebuah kecelakaan, maka jatuh cinta adalah kecelakaan paling indah.

====

 Waktu itu, sebelum gue pindah ke kos terkutuk itu, gue pernah jatuh sakit. Typus adalah penyakit jelek gue di awal-awal perkuliahan. Makan telat dikit, gue laper. Tidur kurang dikit, gue ngantuk. Ujian nggak belajar dikit, nilai ujian gue jelek. Rentetan-rentetan laper-ngantuk-nilai-ujian-jelek ini membuat gue terserang typus. Inilah diagnosa awal kenapa gue bisa sering kena typus. Wajar aja gue nggak keterima di kedokteran. Well, bukan itu yang jadi masalahnya.

Yang jadi masalah adalah gue ada yang ngerawat apa nggak. Ketika jatuh sakit, dan kekasih berada nun jauh di sana, dan ada cewek lain yang berusaha merawat tanpa pamrih, gue cuma bisa bilang “I love you, God!” Iya, dia adalah anak bapak kosan itu. Gara-gara dia, gue nggak sampai dirawat di rumah sakit. Yang jago ngasi perhatian dengan bilang “Get well soon dear, i love you” akan selalu kalah sama yang bikinin bubur, nyuapin, gantiin kompres dan beliin obat.

====

Waktu itu gue adalah seorang aktivis kampus (walau lebih cocok disebut dengan pasifis kampus). Gue yang ber-IQ mentimun, nggak sanggup membagi waktu antara organisasi dengan kuliah. IP gue langsung bungee jumping. Bukan karena IP jeblok yang membuat gue sedih, tapi ketika mata kuliah yang mendapat nilai jelek itu harus diulang. Diulang tahun depan. Dan itu malesnya bukan main. Nyesek.

Setelah tragedi itu gue menjadi seorang perenung. Setiap ada orang ngomongin nilai “A”, gue langsung menatap langit, memandangi burung-burung yang terbang dengan bebasnya. Setiap ada orang yang ngomongin, “IP lo semester kemarin gimana? Wah, gue turun drastis nih. Dari 3,95 jadi 3,90” gue langsung merenung di pojokan, madep tembok. Mengunci diri di dalam kamar dan membusuk dengan sendirinya.

Tapi Tuhan nggak tinggal diam. Monika datang, memberi pukpuk, menunggu gue bersandar, di bahunya yang tegar. Dia yang jago ngasi motivasi dari jauh, “Kamu pasti bisa melewati semua ini, sayang” bakal kalah sama dia yang hebat menemani, menyemangati bahwa kita nggak pernah sendirian dengan arti hadirnya.

====

Malam minggu. Ya, malam yang sering di-overrated banyak orang entah apa alasannya, udah bukan barang baru buat ceng-cengan di berbagai dunia maya. Rasanya, kalau malam minggu nggak dihabiskan bersama kekasih, itu sama aja kayak kuliah pagi tanpa bangun kesiangan.

 Jika malem minggu ini dia ada di samping gue, berarti dia genap 65 hari berturut-turut menemani keseharian gue tanpa jeda. Kami belum jadian, tapi 65 hari yang dia pilih untuk dilewatkan bersama gue, udah gue anggap sebagai sebuah kode. Panggilan sayang gue ke dia, Nana. Sederhana, ini diambil dari kata Banana. Nana ini suka banget sama pisang. Dia udah jatuh cinta sama pisang sebelum akhirnya milih nemenin gue daripada nemenin pisang-pisangnya di rumah.

Tenang dulu. Tenang. Gue nggak selingkuh. Nana tau kalau gue punya pacar di Jakarta. Nana ini Duta LDR Indonesia. Berkali-kali hubungan jarak jauh yang dia bina harus berakhir di air mata yang salah. Karena itulah gue selalu bertanya-tanya padanya, perihal hubungan gue dengan Gaby yang penuh gejolak. Jawaban dan solusi yang Nana berikan sering menyelamatkan hubungan jarak jauh gue dengan Gaby.

Ketika hati udah nggak bisa menyembunyikan bahwa ia merasa nyaman, gue sadar jika telah melakukan sebuah kesalahan besar. Gue curhat kepada orang yang kurang tepat. Gue seperti menemukan kepingan yang hilang di antara kekosongan ruang, yang jarak jauh ciptakan. Cinta tumbuh di tiap kalimat curhat yang didengar dan direspon dengan baik.

Maksud hati ingin bertahan kepada yang jauh, namun apa daya cinta bersemi kepada ia yang dekat. Dia yang memberi kenyamanan dari jauh, lambat laun bisa menyerah kalah pada dia yang memberi kenyamanan di kekosongan ruang, yang jarak jauh ciptakan.

Ada ruang yang tak terisi, ruang di antara jarak, ruang di antara indera, ruang di mana cinta kita perlahan berubah tanpa kita sadari.

A changing room.

====

Yang dekat memberi perhatian. Yang jauh juga memberi perhatian. Tiba-tiba sayup-sayup bisikan terdengar “Ada yang mencintaimu dari dekat, mengapa kau pertahankan ia yang jauh dan yang hanya bisa kau terka-terka?”

“ITU SIAPA YANG NGOMONG BARUSAN!!” gue panik.

“Tidak. Ia mencintai aku, hanya aku yang ia cintai, dengan memilikiku, ia nyaris memiliki banyak hal indah di dunia ini.” gue coba ngebales suara sayup-sayup itu dengan bijak.

“Kau hanya mampu menerka, kau tak melihat apa yang ia lihat dan begitu sebaliknya. Kau hanya jarak yang ia terka, kau hanyalah jarak yang ia lipat menggunakan rasa.” Suara sayup-sayup itu membalas lagi.

“KELUAR LO KALO BERANI!! DI MANA LO SEKARANG!!” gue emosi-emosi ganteng.

 “Coba lihat lagi hubungan kalian, kau dan dirinya cuma bicara lewat telepon, ketika couple lain bicara lewat pelukan.” Sayup-sayup suara terdengar lagi.

Gue mulai hening.

“Coba lihat lagi hubungan kalian, kau dan dirinya cuma bisa mencium kening gagang telepon, ketika couple lain mencium dengan tatapan mata yang panjang.” Sayup-sayup suara yang bikin goyah kembali terdengar.

Gue hening cukup panjang.

“Coba lihat lagi hubungan kalian, kau dan dirinya cuma bisa bertengkar lewat telepon kemudian diam, ketika pasangan lain bertengkar lewat gestur tubuh  dan kemudian  berpelukan dalam diam.” Sayup-sayup suara terdengar dan menusuk punggung dari belakang.

Gue berada di puncak keheningan tertinggi.

“Ya sudah, ingat-ingat lagi hubungan kalian lebih dalam. Kau dan dirinya cuma bisa saling menerka-nerka, ketika pasangan lain saling menatap dan menemukan.”

KREK.

Hati gue retak.

Gue terjatuh, terhempas, terkulai lemas tak berdaya.

Di sela-sela keputus-asaan, sayup-sayup suara bedebah itu kembali terdengar.

“Udah, putusin aja.”




from Don Juan