Kamis, 28 April 2016

AADC: Ada Apa Dengan Civil War?

Civil War baru tayang tanggal dua enam kemarin, dan gue pengin cerita banyak. Tapi tenang, gue nggak pandai untuk me-review sebuah film dan gue juga nggak pengin ngasi spoiler apapun. Walau gue tau, anak twitter jaman sekarang tuh masih banyak yang nggak bisa bedain mana spoiler mana review. Ada orang yang bilang, “Eh tau nggak, tameng Captain America kalo dilempar bisa balik lagi loh.” terus langsung dicaci-maki karena dianggap ngasi spoiler.

Sekuel Captain America yang ketiga ini berhasil membuat gue – yang notabene awam banget soal film – kembali terpukau.

Berbeda nggak kayak serial superhero pada umumnya, yang punya villain atau alien sebagai musuh utamanya, Steve Rodgers, dari sekuel pertamanya The First Avenger hingga di sekuelnya yang ketiga Civil War, selalu berurusan dengan politik dan musuhnya bukanlah Alien. Isinya intrik-intrik dan perpecahan yang timbul dari dalam. Tentunya juga  dihiasi dengan sepak terjang, lari, tabrak, dan lempar-lemparan tameng bulatnya.

Intrik-intrik politik di setiap sekuelnya – walau gue tau jika dibandingkan dengan genre crime bisa dikatakan sangat sederhana – sangat menarik untuk ditonton mengingat Captain America sejatinya adalah film laga. Ini lah yang menjadi nilai lebih jika dibandingkan dengan film superhero lain yang mayoritas cuma adu pamer kekuatan.

Masih ingat film Man of Steel? Itu benar-benar film yang isinya pamer kekuatan. Ngancurin ini itu dan duel yang sangat lama sampe gue capek nontonnya. Atau  adu jotos antara Batman dengan Superman? Di sana kita bisa dengan mudah menemukan kekuatan-kekuatan yang sangat mentereng dari Superman. Kota hancur begitu aja kayak ngeliat mantan udah jadian lagi dengan yang lain, sementara Batman cuma bisa liat dari bawah reruntuhan gedung sambil menyimpan dendam.

Lalu, apa sih kekuatan yang dimiliki Captain America?

Walau nggak ngikutin komiknya, sebagai orang awam yang tau bahwa Captain America cuma bermodal wajan mamang nasi goreng tameng pas berantem, gue cuma ngedumel dalam hati, “Anjir, ini orang kayaknya nggak bahaya-bahaya amat deh, paling benjut doang kalo kesambit tameng.”

Jadi ya gitu, Steve Rodgers ini kuat di stamina, lari, lompat, sama nabrak. Adegan ini bisa kamu temukan di sekuel keduanya, Winter Soldier. Di mana Rodgers ngejar Winter Soldier dari dalam gedung hingga ke atap gedung, menerjang tiap tembok gedung untuk motong jalan. Ya, tembok ditabrak-tabrakin..

Kehebatan keduanya, Rodgers ternyata jago main Frisbee. Di tangan Rodgers ada semacam alat seperti magnet yang akan menarik kembali tameng bulatnya yang udah dilempar. Kehebatan Rodgers yang ini makin matang di sekuel ketiganya, Civil War. He is throwing his shield like a boss. Kamu akan menemukan ada tiga hingga lima orang benjut cuma dengan sekali lempar. 

Keren..

Kehebatan ketiganya, ya gitu, Rodgers ini kuli. Dia memang nggak punya healing ability kayak Deadpool atau Wolverine, dia bisa berdarah, tapi ya gitu, cuma ngos-ngosan aja. Dia juga nggak bisa benjut atau bonyok. Ini dia buktikan ketika adegan berantem di lift. Dia jatuh dari lantai 30, mecahin banyak kaca dan mendarat di aspal pake tamengnya. Dia ngos-ngosan selama tiga detik, terus lari lagi. Ya itu di sekuel keduanya, Winter Soldier. Dan ketika kamu nonton Civil War, kamu akan liat betapa ngos-ngosannya si Rodgers ini..

Kehebatan keempatnya? Ya, Rodgers ini ahli strategi dan sangat loyal kepada anak buahnya. Rodgers ini memang tentara beneran dan cukup polos. Di sekuel pertama The Avenger, keliatan banget bahwa Rodgers ini kalah jauh dari Hulk apalagi seteru utamanya, Ironman. Tapi dia yang ngatur-ngatur kalau perang. Maklum, paling tua dia..

Untuk ukuran hero yang punya pengaruh besar di Marvel, bahkan menjadi Avengers yang pertama, kekuatan Rodgers ini memang terlihat biasa aja.

That’s why I like him.

He is just human with tenaga kuli..

Di sekuel ketiganya, Civil War, Rodgers lagi-lagi bermasalah dengan hal-hal politis dan penuh intrik. Musuh yang dilawan pun nggak main-main, bukan alien atau hydra, tapi temen sekaligus rival abadinya, Tony Stark.

Ada apa dengan Civil War?

credit to: @pipis



=====


Gue jadi makin benci Tony Stark setelah tau apa yang terjadi di Civil War. Ini adalah konflik antara prajurit tentara dengan kontraktor senjata tentara. Civil War ini sebenernya udah diduga banyak orang sebelumnya. Dari jaman Avengers pertama, Rodgers dan Stark selalu berseteru. Perbedaan sifat dan idealisme antar mereka yang kontras selalu memicu mereka untuk bersitegang.

Di Avenger Age of Ultron pun, mereka kembali bersitegang. Nggak Cuma Rodgers, Hank Pym sang founder Antman --yang kali ini Antman-nya menjadi cameo di Civil War, pun dulunya punya masalah sama keluarga Stark. Scarlet Witch, Wanda, yang diperankan begitu embem oleh Elisabeth Olsen juga pernah bermasalah dengan Tony Stark. Keluarga si embem Wanda menjadi korban  invasi senjata perusahaan Stark.

Permasalahan-permasalan yang terjadi akibat adanya Avenger dan banyaknya bekgron sakit hati atas apa yang telah Stark perbuat, memicu perang sipil. Di peliknya tuntutan Negara akan banyaknya kerugian yang dibuat oleh Avenger dan Tony Stark di masa lampau, membuat Ironman – untuk yang kesekian kalinya, terlihat menjadi tokoh utama bahkan pada sekuel yang seharusnya menjadi panggung bagi Steve Rodgers.

Dan di sinilah apa yang paling gue suka dari Civil War: Steve Rodgers berusaha mati-matian taking his stage back. Gue merasakan betapa ngos-ngosannya Rodgers untuk membuktikan bahwa ini adalah panggungnya.

Di sini juga pertanyaan besar gue terjawab, “Emang kalau Captain America berantem sama Ironman yang menang siapa? Pasti Ironmah lah.” Ternyata, Captain America itu biasa aja mukul besi pake tangan kosong. Gue jadi tau bahwa Captain America itu nggak lemah-lemah amat. Jujur, gue seneng banget ngeliat perseteruan antar mereka. Gue happy ngeliat mereka saling menghancurkan dari dalam. Buat gue, they are not supposed to be together, just let them fight and hate each other.

Selain Ironman dan Captain America, karakter lain yang punya role penting adalah Winter Soldier. Sangat menarik menyaksikan aksi-aksi dari sohib lamanya Rodgers yang dingin dan sok cool ini, mukul-mukulin Ironman. Dan Civil War ini jadi makin meriah dengan adanya karakter baru seperti Black Panther, yang digambarkan sebagai seorang yang sangat wise seperti Vision. Kemudian Ant-man sang maling slengean yang mengidolakan Captain America, dan.. oh well, Spider-man yang kemunculannya sangat hype di trailer awal yang diperankan oleh Peter, spoiled brat. Semuanya keren dengan cara khas masing-masing.

Eh nggak deng, kekecewaan terbesar gue di film ini ada dua, Spider-man dan Zemo. Sebagai penikmat Spider-man dari generasi Tobey sampe Andrew Garfield, Spider-man kali ini buat gue sangat mengecewakan. My childhood ruined..

Siapa itu Zemo? Di film yang akan kamu tonton ini, kamu akan temukan bahwa ternyata ada yang lebih buruk dari Lex Luthor di BvS. Perannya dimainkan secara biasa aja padahal dia memegang role penting. Dan buat gue, Zemo ini diceritakan terlalu sederhana dan ending-nya pun lebih sederhana dari nama nyokapnya Superman dan Batman. Lebih sederhana dari wasap nggak dibales tapi ngetwit jalan terus.

Di film ini juga, kamu bisa temukan bahwa Tony Stark bukan satu-satunya yang paling tajir di Avengers. Ada hero lain yang nggak kalah tajir dan nggak kalah canggih peralatan tempurnya. Dan yang gue suka, pada akhirnya dia stands on Rodger’s side..

Lewat film ini juga, untuk yang kedua kalinya, Rodgers ingin memberi pesan bahwa perpecahan dan musuh terbesar bukanlah berasal dari luar, melainkan dari dalam. Begitu mudahnya mengalahkan seseorang dari dalam, lewat masa lalu, dan disebarkan lewat dendam.

Di menit-menit akhir film ini, gue jadi teringat bahwa kisah-kisah cinta gue runtuh bukan disebabkan oleh pihak ketiga maupun dari luar, melainkan dari dalam. Yaitu perbedaan agama. Rusaknya mahligai pacaran gue perlahan dipicu dari perbedaan ini, pelan-pelan, dari dalam..

Dan tentunya, dari kita yang teguh memegang ego masing-masing karena merasa paling benar. Seperti yang dilakukan Tony Stark dan Steve Rodgers.

Terakhir dari gue, Captain America is getting better and better. Sangat layak kamu tonton walaupun kamu fans Manchester United.


Two thumbs up!

Rabu, 06 April 2016

Hal-Hal Nggak Penting yang Ada di Dating Apps



Waktu yang tersita karena harus menjadi budak korporat di kerasnya ibu kota, ditambah dengan hati yang berantakan karena gagal urusan cinta, membuat gue nggak punya pilihan lain untuk meng-install aplikasi kencan online.


Cuma itu yang bisa gue lakukan di tengah kesibukan kerja, sambil sedikit demi sedikit mengembalikan asa untuk bisa kembali jatuh cinta.


Kurang lebih sampai dengan bulan maret kemarin, gue genap lima bulan bergumul dengan beberapa aplikasi kencan online yang kebetulan tengah hitz di kalangan remaja urban. Seperti Tinder, Paktor, Setipe, Woo, dan Tagged. Awalnya, gue sama sekali nggak tertarik mencoba aplikasi kencan online, namun takdir berkata lain..


Buat gue, saat itu, orang yang main dan menggantungkan harapannya tinggi-tinggi kepada aplikasi-aplikasi ini, tergolong orang yang hina-dina. Orang yang desperate. Orang yang menurut gue nggak menarik secara packaging sehingga sulit untuk menarik perhatian orang lain ketika bertemu face to face. Akhirnya mereka terjerumus pada aplikasi-aplikasi ini.


Belum selesai gue menyelesaikan kalimat di atas, ternyata gue sudah diceritakan dengan sempurna pada kalimat-kalimat tersebut.


Ya, itu gue semua.


Gue adalah orang-orang yang ada di atas.


Sialan.


Lima bulan mencoba peruntungan jodoh lewat aplikasi kencan online, alih-alih mendatangkan jodoh, malah mendatangkan sakit kepala. Ternyata aplikasi kencan model begini, buat gue, lebih parah dari blind date. Gue ibarat masuk ke dalam hutan belantara tanpa memakai sepatu, tanpa membawa benda tajam, tanpa makanan, dan tentu aja berharap ketemu cewek cakep. Realitanya, di dalam hutan gue lebih mungkin ketemu macan ketimbang cewek cakep.


Gue menemukan banyak hal yang nggak penting dan selalu berhasil membuat gue dalam hati berkata, “Apaan sih, biasa aja kali.”


Berikut adalah hal-hal nggak penting yang pasti kita temukan ketika mencoba peruntungan di aplikasi kencan online..



Kayaknya gue salah pilih gambar deh.. (blog.lass.org.uk)




=====





JARANG ONLINE



Gue, yang lebih sering dikira tukang duku ketimbang dikira cowok baik-baik, tentunya akan sangat sulit menemukan match pada aplikasi kencan online. Sehari gue bisa swipe kanan lima puluh kali untuk cewek di Tinder dan di Tagged. Setelah sekitar tiga ratusan cewek gue swipe kanan, hanya ada lima cewek yang match. Di sinilah gue makin yakin kalau gue ini sebenarnya masih satu sodara sama spesies petasan banting.


Namun, derita akibat ketidakgantengan gue belum selesai sampai di situ, lima cewek yang match ini ternyata cuma sepersekian dari jutaan penderitaan yang mungkin gue akan alami di kencan online. Gue ngechat satu per satu dari mereka dan satupun nggak ada yang bales. Kalau dilihat dari rentetan di kolom chat ke cewek-cewek ini, gue udah kayak monolog ke diri sendiri. Anjis, desperate abis.

Sekitar seminggu kemudian, ketika gue udah mulai ketemu sama match yang lain, tiga dari lima cewek tersebut akhirnya membalas chat gue.


“Sorry, baru bales, gua jarang online.”
 

Terus gue nyeletuk dalam hati dong, “Lah, bodo amat..”


Walau nggak ada yang salah dengan jawaban mereka di atas, gue jadi mikir, cewek-cewek yang konon kalau dilihat dari fotonya cantik-cantik ini, sebenarnya ngapain sih ada di aplikasi kencan online? Buat akun, terus swipe kanan beberapa cowok ganteng, terus udah gitu? Tinggal nunggu cowok-cowok berdatangan pada dirinya? Tinggal menunggu cowok-cowok mengemis chat ke dirinya gitu? Nggak mau online gitu?


Asli, nggak penting amat.



“Lebih baik diasingkan daripada menyerah sama cewek yang jarang online..” – Downy Hok Gie.






JUST FOR FRIEND



Kalimat yang sering dilontarkan cewek seperti, “Kayaknya, kita jadi temen aja deh, nggak lebih..” ternyata dipegang teguh oleh mereka di berbagai sendi kehidupan. Semakin cantik seorang cewek, semakin sering dia mengucapkan kalimat pusaka di atas. Saking diterapkannya di berbagai sendi kehidupan, kamu jangan kaget kalau ada cewek cantik belanja ke indomaret, terus ditanya mamang kasirnya, “Sekalian pulsanya, mbak?”,


dan dijawab sama itu cewek, “Nggak deh mas, kayaknya, kita jadi temen aja deh, nggak lebih..”


Aplikasi kencan online juga termasuk bagian dari sendi kehidupan yang nggak luput dari kalimat pusaka cewek-cewek cantik ini. Ketika kamu main Tinder misalnya, di sana akan ada jutaan cewek yang nulis bio dengan bernada, “Just for friend”.


Gue pernah chatting udah lumayan rame sama seorang cewek, namun ilfil di chat berikutnya karena dia nulis gini, “Eh, kita cuma jadi temen aja loh, gue nggak nyari pacar.”


Gue hening cukup lama dan berpikir keras.


Who the hell are you? Who do you think you are? Gue ini cuma pengin kenal doang kali. Jadian juga nggak sekali dua kali chatting kayak gini.” Namun kalimat yang udah gue ketik itu nggak pernah gue send.




Asli ini nggak penting banget.


Kenapa sih cewek-cewek di sini kepengin banget punya temen baru?


Oke, nggak ada yang aneh dan salah dari kalimat di atas. 


Pertanyaannya gue ganti deh, “Kenapa sih harus banget nyari temen baru di tempat yang memang pada visi dan misinya digunakan untuk meningkatkan chance bertemunya orang yang tepat sebagai jodoh?”


Pertanyaan kedua, “Emang segitu susahnya ya nyari temen baru di real life? Emang cewek-cewek di Tinder ini saling nge-swipe kanan antar sesama cewek supaya punya temen baru? Emang keuntungan punya temen cowok baru dari dating apps itu apa, sih?


Pertanyaan ketiga, “Kalau yang dicari adalah temen, kenapa nggak main Twitter, Snapchat, IG, atau Path aja? Di sana kan sangat memudahkan untuk berteman. Kamu bisa ngeliat apa yang temen kamu lakukan, dengarkan, dan bisa baca twitnya.  Berteman itu mudah, loh..”


Kalau emang nggak berniat membuka hati untuk open relationship, ya kayaknya sih nggak perlu-perlu amat main Tinder atau sejenisnya.


Oke maaf, gue ngatur-ngatur ya?


Asli, ini nggak penting bener.





ANONIM ATAU PASANG FOTO BERDUA DENGAN PACAR


Ya, menjadi anonimus di dunia maya memang bukan hal yang aneh lagi. Karena pada dasarnya, masing-masing dari kita punya misi berbeda dalam bermain sosmed. Ada yang jualan, ada yang berbentuk komunitas, ada yang bersifat personal tapi nggak ingin diketahui identitasnya, dan masih banyak alasan yang melatarbelakanginya.


Tapi akan jadi aneh ketika kamu menjadi anonim di tempat yang seharusnya menampilkan wajah dan jati diri sebaik-baiknya.


Gue sering banget ngeliat ini di Woo, Paktor, dan Tinder tentunya. Apa sih faedah dari menjadikan foto bertuliskan quote layaknya di IG, di profil picture aplikasi kencan online? Selain quote-quote ciri khas anak IG, ada banyak juga yang masang foto anak kucing atau anak anjing. Pengin bikin gue merasa gemes gitu? Kamu pengin gue jatuh cinta sama foto anak kucing hasil nyomot dari google?

Belum selesai di situ.


Hal kedua yang bikin gue teriak, “APAAN ZEH?” adalah ketika gue ngeliat foto cewek di Tinder, yang di mana sedang berduaan mesra dengan cowoknya. Kalau cuma duduk selfi biasa, gue masih ngerti deh. Tapi ini sampe pelukan, sampe pangku-pangkuan.


Ini maunya apa, sih?


Cewek-cewek yang profil picture-nya lagi bermesraan dengan cowoknya ini, mau menghina gue yang nir-asmara, jauh dari kata ndusel, kaum yang terpinggirkan dari cinta, proletar asmara, atau apa sih?


Benar-benar tak berperikeasmaraan.


Ya nggak ada yang salah dengan memamerkan kemesraan bersama pacar, tapi apakah itu sangat perlu dilakukan di tempat yang visi utamanya adalah mendekatkan yang saling asing agar bisa berjodoh? Emang di Path belum puas memamerkan kemesraan sehingga harus banget dipamerin di aplikasi kencan online?


Belum selesai di situ.


Bio dari cewek-cewek yang Apaan-zeh? ini, ternyata adalah, “Just searching for friend, thanks.”


Mari kita teriak, “LAH BODO AMAT ANJIS.”


Bener-bener nggak penting.






MENJADI PAKAR KOMUNIKASI



Kalau kamu udah baca tulisan lain gue yang berjudul #CewekCakepRules, maka ini adalah lanjutan dari kegelisahan gue yang paling paripurna di semua aplikasi kencan online.


Kabar buruk buat cowok yang mukanya kayak gunting batagor, yang kayak garem rujak dan yang pokoknya pas-pasan di berbagai lini. Kalian akan sangat ditindas ketika main Tinder, Paktor atau sejenisnya.


Anjis, gue curhat.


Buat kamu cowok yang masuk di kriteria di atas, jangankan bisa ketemuan dari hasil match, ketika ada yang match aja, kalian udah kena ospek pertama.


Ya, bagian paling sederhana di mata kalian, namun dijadikan sangat krusial oleh cewek-cewek cantik.


Ya, menyapa.


Membuka obrolan.


Pertanyaan pertama gue, “Bagaimana cara menyapa atau membuka obrolan ke cewek cantik yang sama sekali belum dikenal secara masiv dan terstruktur tanpa meninggalkan kesan mau berbuat tidak senonoh dan.. yaa pokoknya harus santun, ramah, tapi nggak boleh bikin bete?”


“Hai, howdy? Nice too see you here..”


Atau,


“Eh halooo, salam kenal, namaku Downy, aku kerja di Jakarta, kamu juga kerja di Jakarta kan?”


Atau,


“Eh halooo, wajahmu kok familiar ya? Kayaknya kita pernah ketemu deh di masa depan. Apa jangan-jangan semua ini bukan kebetulan? Jangan-jangan kita jo….”


Atau,


“Hai miss universe, aku tidak akan selingkuh kecuali Tuhan menciptakanmu lebih dari satu..”


Atau,


“Kamu tau nggak, berada di match yang sama denganmu, mengajarkanku arti sebuah kenyamanan, kesempurnaan cinta.”


Atau,


Hello, it’s me, I was wondering if after all these years you did like to meet, to go over everything.”



Menurutmu, mana chat yang paling benar untuk memulai suatu obrolan?


YA, BETUL, SAMA SEKALI NGGAK ADA YANG BENER.



Semakin jelek seorang cowok, semakin sedikit kesempatan untuk menjadi benar di kali pertama dia mencoba membuka obrolan. Gue bahkan pernah mendapat kuliah dadakan dari seorang pakar cinta – yang kebetulan juga menjadi bagian penting pada salah satu perusahaan yang menjadi developer salah satu aplikasi kencan online, terkait psywar yang kerap terjadi ketika berusaha membuka obrolan ke cewek cantik.


“Ya kalo lo membuka obrolan aja masih pake “Hai cantik”, “Halo apa kabar?”, “Hei, kerja di mana ni kalo boleh tau?” ya nggak mungkin ditanggepin lah. Basi banget itu. Sukur-sukur di-read, yang ada lo di-unmatch.” Ucap sang pakar siang itu.


“Oke, noted.” Jawab gue dalam hati.


Kata kuncinya adalah, sapalah dia tanpa harus menggunakan kata sapaan, dan tanpa membuat dia bĂȘte. Bingung kan? Siapa suruh jadi cowok jelek. Mamam.


Besoknya langsung gue terapkan pada match yang baru.


“Eh, kita match nih! Bait ketiga dari mars Perindo apa coba, hayooo?”


Atau,


“Oh selamat yaa, sekarang kamu berhak mendapat pertanyaan dari aku. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk merebus sebuah telur?”


Atau,


“Eh, kamu punya perasaan yang sama kayak aku nggak sih? Kamu ngerasa nggak sih kalau Raisa itu biasa aja?”


Atau,


“Hmm, tiga permen loli milkita setara dengan berapa gelas susu hayoo coba tebak..” (ini @satriaoo banget)



Gimana, udah ada yang bener belum nih ngechatnya?


YA BETUL SEKALI, NGGAK AKAN ADA YANG BENER.  HAHA MAMPUS, KLEN.


Sedih rasanya ketika kalian harus menjadi pakar komunikasi dan ahli nujum untuk menebak-nebak mood yang tepat seorang cewek tentang kapan dan harus bagaimana mengawali pembicaraan sederhana yang sebenarnya nggak akan pernah sederhana.


Dan hebatnya, ini adalah lingkaran bisnis yang sangat menggiurkan. Ketidakgantengan dan kebodohan yang jadi satu di tubuh seorang cowok, akan mendatangkan peluang bisnis yang sangat menjanjikan bagi cowok lain yang katanya sangat pandai dalam membuat cewek bertekuk lutut sampai ngangkang.


“Emang gimana cara memulai chat yang benar ke seorang cewek cantik?” Tanya gue kembali kepada sang pakar.


“Ya udah, dateng aja ke seminar temen gue. Buruan beli tiketnya, seat terbatas.” Ucap sang pakar sambil memantik batang rokok terakhirnya.




You know your life is so fucked up when memulai pembicaraan yang tepat ke seseorang cewek itu lebih sulit daripada memulai presentasi sidang skripsi.


This is the most-nggak penting-part, you will ever meet in this life.







=======



Tepat 1 April kemarin, gue resmi menghapus semua aplikasi kencan online yang ada di hape. Gue kayaknya memang diciptakan secara konvensional untuk urusan cinta. Kekurangan gue dari segi packaging, membuat gue malah makin terbelakang di kencan berbasis online.


Nggak perlu capek-capek mencari jodoh, lah.


Nggak ada yang salah dengan yang namanya kesendirian atau bahkan kesepian. Kalau saja setiap dari kita nggak bermusuhan dengan yang namanya kesepian, kita nggak perlu repot-repot mencari kebahagiaan lewat orang lain. Buat apa capek-capek mencari bahagia lewat orang lain kalau kebahagiaan sebenarnya bisa datang dari diri sendiri?


Berhentilah mencari, sebab berhenti mencari adalah cara lain untuk menemukan.


Do you believe it?